Postingan

Tenang

Tak sedikit yang memberi saran supaya aku membuka hati untuk orang lain masuk ke dalam hidup — menjadi pasanganku. Aku bertanya-tanya sendiri "apa iya aku harus?". Keraguan atas pikiranku dan saran mereka bercampur menjadi satu, dibubuhi kalimat "yang cocok menjadi pasangan kekasih, belum tentu tepat sebagai pasangan suami istri" membuat pemikiran semakin liar. Namun seiring waktu berjalan, aku paham bahwa saran yang diberi tidaklah cocok. Karena aku yang menjalani. Mereka? Hanya mengobservasi. Seiring waktu berjalan, aku sadar untuk perlu memperbaiki dan berdamai dengan diri sendiri agar bisa terus tumbuh mengimbanginya. Seiring waktu berjalan bersamanya, aku mengenali beberapa bagian tingkah lakunya, cara berpikirnya, dan apa-apa yang membuat kekhawatiran dalam hidupnya. And yeah, it's not as simple as "I can't be with you, let's end up here". Dengan adanya pandemi ini, memberi waktu untuk jarak yang bermanfaat, menampakkan sifat tanpa member...

Samudera dan Isinya

Ketika manusia mampu menembus langit biru Sedang laut dan darat menyatu Tak ada pintu aman saat berpacu dengan waktu Gelap yang tak indah Dingin tanpa cahaya Gundah hatinya Namun masih harus berharap Para penjaga laut itu terus berbaik Diberi tempat lapang dari sang ikan Untuk mengikuti angin dan arus dalam Selamat berlayar, Nanggala-402

Ceritaku di Masa Pandemi: Setahun Sudah

22 Maret 2020 untuk pertama kalinya aku dirawat di Rumah Sakit, bukan kamar biasa, tapi kamar isolasi. Bagaimana bisa? Panjang nih ceritanya hehehe. 10 Maret 2020, aku flu. Lalu minum obat warung untuk menghilangkan bersin-bersin, tapi bukannya sembuh, malah timbul kemerahan di sekujur tubuhku dan kesulitan untuk bernafas. Dibawalah aku ke IGD RS Pelabuhan untuk melakukan pemeriksaan, Dokter jaga sempat bingung mengapa timbul alergi karena kandungan di obat yang aku minum tidak ada kandungan penyebab alergi. Kemudian aku dapet tindakan suntik, dan setelah satu jam kemerahan dan kesulitan bernafas itu hilang, aku diperbolehkan pulang dan diberi resep obat-obatan. Seminggu berlalu, bertemu teman-teman kuliah namun rencana ke Bandung untuk menghadiri pernikahan sahabatku batal karena imbauan pemerintah untuk di rumah saja. Obat yang diresepkan juga sudah habis. 18 Maret 2020, mulai timbul lagi flu dan sesekali batuk. Di kantor sudah mulai aware untuk penerapan protokol kesehatan, seperti ...
 Aku ingin beristirahat Mungkin sejenak Atau mungkin hingga dadaku tak sesak Dipastikan tidak akan cepat Seminggu atau Sewindu? Tidak ada yang tahu Seperti tidak ada tempat untuk mengadu Ingin aku ikuti kata hati, pikiranku melayang tiada arah Apa, kenapa, bagaimana, di mana Muak Kedua kali merasa seperti ini Mencoba berdiri, duduk pun tak mampu Memang hanya mati yang aku tunggu

i don't deserve anybody

if i can kill this fundamental question and not blaming chidhood experiences.  if i can be strong enough without taking a person into. if i can choose the other options but i will never learn. they are real feelings. ..

Ceritaku di Masa Pandemi: Page 366 of 366

Sebelum nulis ini, aku baca postingan My Life in 2019  sebagai bahan inspirasi tapi setelahnya tetep bingung mau nulis apa yah hahaha.  Hmm okay, kita semua tau 2020 hampir semua hal berubah karena pandemi Covid-19 yang melanda dunia, adanya peraturan social distancing dengan sekolah dan bekerja di rumah , kehilangan keluarga akibat terpapar virus, pengurangan karyawan sampai berdampak buruk pada kondisi keuangan setiap lapisan juga negara, dan masih banyak lagi hal gak enak yang kita rasakan di tahun ini. Di tahun 2020 ini aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah — di kamar lebih tepatnya. Kota yang dikunjungi tahun ini adalah Bandung pada bulan Januari dan Februari, saat itu belum ada anjuran pemerintah untuk stay di rumah aja. Di bulan Maret pun ingin ke Bandung untuk datang ke pernikahan sohib tapi PSBB sudah diterapkan. Selanjutnya, aku ke Jogja di bulan November, dengan persiapan seperti rapid tes sebelum melakukan perjalanan, juga karantina setelah kembali ke Jakart...

Ceritaku di Masa Pandemi: Throwback Solo Travel ke Singapore

Gambar
OMG gak berasa udah setahun yang lalu aku soling (solo traveling) ke Singapore, rasanya baru kemarin first time lewatin immigration gate. Ini 2020 yang kecepetan atau emang cuma ada bulan Januari Februari lanjut bulan Oktober ya:p Baiklah, aku ingin mencoba throwback lost in Singapore tahun lalu, cekidotttt...  Selasa, 29 Oktober 2020 Dari rumah berangkat ke kantor sungkeman dulu ke Ibunda, minta maaf kalau ada salah kata dan perbuatan (asli deg-degan soalnya hahaha).  Geret-geret koper ke kantor, tidak lupa minta izin untuk pulang cepet habis istirahat langsung cus ke stasiun Ancol, karena mau naik kereta Bandara dari stasiun Batu Ceper. Harga tiket Railink sebesar Rp 30.000,- untuk perjalanan selama 12 menit hahaha. Setelah sampai stasiun kerata bandara, lanjut cari stasiun Skytrain untuk menuju Terminal 2 Internasional, naik Skytrain tentu saja gratis.  Sampai di T2, tunjukan tiket ke petugas yang ada di pintu masuk, kemudian lanjut ke loket check in (lupa-lupa ingat ...